Minggu, 30 Januari 2011

Hidup Adalah Pilihan


Hidup Adalah Pilihan

Ada dua buah tanaman yang terhapampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata. “ aku ingin tumbuh besar. Aku ingin mejejakkan akarku dalam-dalam tanah ini. Aku ingin menjulangkan semua tunas-tunasku di diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku ,untuk menyampaian salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun dipucuk-pucuk daunku.”
Dan bibit itu tumbuh, makin menjulanag.
Bibit yang kedua bergumam. “aku takut jika kutanamkan akarku kedalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemuai dibawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.
Apa yang terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput akan coba memakanya? Dan pasti, jika tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menungggu sampai semuanya aman.”
Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor  ayam menangis tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
Renungan :
Memeang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun. Seringkali kita berada dalam kepesimisan,kengerian,keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri  kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karna hidup adalah pilihan, maka , pilihlah dengan bijak.
Jangan segan untuk mengulurkan tangan anda. Tetapi , jangan anda enggan untuk menjabat tangan orang lain yang datang pada anda. (Pope John XXIII)

Singkirkan Prasangka


Singkirkan Prasangka.

Ketika anda memandang suatu persoalan, tinggalkan prasangka-prasangka. Prasangka itu bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak dapat digunakan untuk berjalan. Ia memberikan jawaban sebelum anda mengetahui pertanyaannya. Dan, seburuk-buruknya jawaban adalah bila anda tak paham akan masalahnya. Biarkan fakta yang tampak dihadapan anda terima apa adanya. Jangan biarkan prasangka anda menyeret  anda kejalan lain. Mungkin anda merasa aman dengan prasangka anda, namun sebenarnya berbahaya di waktu yang panjang. Bila anda telah mampu melepaskan prsangka, anda menemukan pandangan yang lebih jernih, keberanian untuk mengatasi masalah dan jalan yang lebih lebar.
Bila anda mengenakan kaca mata, bukan kacamata anda. Dan keadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang berada dibalik kacamata anda. Demikian pula halnya dengan anda, yang sesungguhnya melihat adalah hati anda melalui mata anda, prasangka itu adalah debu-debu pikiran yang mengaburkan pandangan hati  sehingga anda tak mampu melihat dengan baik. Usaplah prasangka sebagai mana menyingkirkan debu dari kacamata karena keinginan anda untuk melihat lebih jelas dan jernih lagi.

Sabtu, 29 Januari 2011

paku


 Paku

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku dipagar belakang setiap kali dia marah..

Hari pertama anak itu memakukan 48 paku kepagar setiap kali dia marah.. lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih muda manahan amarah dari pada memakukan paku kepagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap dia tidak marah.
Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu kahirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. ”Hmm, kamu telah berhasil baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang dipagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini ... di hati orang lain.
Kamu dapat menusukan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu .. tetapi tidak peduli berapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada .. dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik...”


Terus Berkarya
Jangan berhenti. Bukan berhenti akan menghambat laju kemajuan anda. Namun sesungguhnya alam mengajarkan bahwa anda tak akan pernah bisa berhenti. Menski  anda berdiam diri di situ, bumi tetap mengajak anda mengelilingi matahari. Maka, bergeraklah, bekerjalah, berkaryalah. Bekerja bukan sekedar  untuk meraih sesuatu. Bekerja memberi kebahagiaan diri. Itulah yang diharapkan alam dari anda.
Air  yang tak bergerak lebih cepat busuk. Kunci yang tak akan pernah dibuka lebih mudah serat. Mesin tak dinyalakan lebih gampang berkarat.  Hanya perkakas yang tak digunakanlah yang disimpan dalam laci berdebu. Alam telah mengajarkan ini; jangan berhenti berkarya, atau anda segera menjadi tua dan tak berguna.
Tahukah Anda!..
Di usia 25 tahun, ia dipecat dari ketentaraan, selain itu ia telah dipermalukan, patah semangat,tanpa harapan,tanpa uang. Di ujung semua itu, berniat bunuh diri dengan meloncat dari sebuah jembatan.
Namun sebelum niat tersebut terjadi, seorang teman datang dan membujuknya untuk membatalkan bunuh diri, dan memulai hidup baru.
Hanya dalam waktu setahun setelah rencana bunuh diri itu, ia berhasil meniti kembali karir militernya yang telah hancur, dan berhasil menjadi jenderal termuda dalam Dinas Ketentaraan Perancis. Kemenangan besar dapat dicapainya justru saat ia memimpin prajurit-prajurit lelah yang kelaparan (dimasa inilah ia berkata  “prajurit berjalan di atas perutnya”). Di kemudian hari ia menaklukkan seluruh daratan Eropa daratan ,ia adalah
Napoleon Bonaparte.

Jumat, 28 Januari 2011


Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja.

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipihnya yang bulat, duduk  menggelar nasi daganganya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli  angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah
Hampir –hampir mustahil ada orang yang berdagang dengan harga sedemikian renda. Lalu lupa apa untungnya ? wanita itu terkekeh menjawab.” Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli?  Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?’ katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja
Ah!  Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana  wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia , adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja: menghadirkan secercah kesajahteraan bagi sesama.